A Separate Soulmate (Prolog)

Genre : Chiklit, Romance.

Perdana saya post di wordpress.


Mengapa kita berpisah padahal saling mencinta ?

Mengapa kita tak bersama padahal saling menginginkan ?

Mengapa kita menjauh padahal ingin memiliki ?

Mengapa kita saling diam padahal ingin bercengkrama ?



Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan yang sebenarnya bisa terjawab. Tidak ada yang bisa menerka sesuatu yang tidak pernah kita rasakan. Tidak ada yang bisa merasakan sesuatu yang tidak pernah kita alami.
Dan di bawah sinar bulan dihiasi kerlip bintang bertaburan serta cahaya lampu temaram. Mereka bertemu, berpelukan. Meluapkan rasa rindu yang sudah lama tertahan. Menyatakan perasaan cinta masing-masing yang sudah lama tertanam.

Mereka menangis dalam suka. Cinta sepasang sejoli yang sempat terpisah jarak dan waktu. Akhirnya bersatu, dalam sebuah pernikahan yang syahdu nan bahagia.

The end.

“Itulah akhir kisah dalam novel terbaru saya.” Wanita berambut sebahu itu mengulas senyum sembari menutup novel bersampul merah muda yang ada di pangkuannya.

“Kisah yang indah.” Ucap seorang wanita lain menjabat tangan si penulis novel, “Well, semoga bisa menjadi best seller.”

“Amin. Terimakasih Seina atas kerjasamanya.”

Dan dengan satu tanda tangan kontrak, Alissa bisa menerbitkan novel di seluruh toko buku yang ada di negara ini. Serta, tentu saja dapat menyambung kehidupannya.

Wanita dua puluh delapan tahun itu menarik turun kaca matanya, kemudian menyelipkan ke saku kemeja biru tua yang ia kenakan. Dia, seorang penulis novel romance dan juga merangkap sebagai seorang ibu.

Kisah dalam buku yang ia cipta merupakan rangkaian kisah hidupnya. Tidak, tidak sama persis. Melainkan ia atur sedemikian rupa membentuk kilasan – kilasan kisah manis yang membuat tokoh tersenyum bahagia menjalani takdir yang indah.

Karena…. Alissa adalah Tuhan di dalam novelnya.

****

Alissa POV

Aku adalah seorang ibu. 
Ibu bagi anak-anak didikku yang selalu bersamangat menyambut hari dengan binar wajah polos mereka. Meski di lain waktu, wajah-wajah polos itu akan berganti suram ketika mendapat serentetan tugas dengan mata pelajaran yang sulit dipahami. Adakalanya jiwa kenakalan mereka bangkit. Berontak, berbuat onar lalu menangis oleh sesuatu yang mungkin dianggap biasa bagi orang dewasa. Tapi itulah anak-anak dan aku menyukainya. 

Menyukai pekerjaanku.

Ya, selain menulis. Aku merupakan guru salah satu sekolah dasar di kota ini. Ibu bagi murid-muridku. Serta… ibu bagi putera kecilku Alfa.

Ahh… Aku menyayangi mereka. Sangat menyayangi. Dan, hampir setiap waktu aku habiskan bersama mereka. Karena mereka adalah obat penghambat laraku.

Aku Alissa Stina dan Ini adalah kisahku.

Bersambung. (Part 1)

Iklan

Aku suka bersajak

Aku suka bersajak
Setidaknya,

Aku bisa menggambarmu indah

Meski kenyataan tidak

Aku suka bersajak
Daripada,

Berkata langsung aku mencintaimu

Namun tidak didengar

Aku suka bersajak

Selain dari,

Aku tidak berani dalam hal apapun

Kecuali mencandu senyumanmu

Aku suka bersajak
Tetapi sungguh,

Aku lebih menyukai dirimu

Sangat,

Tak ada kebohongan dalam kata-kata.

Sajak By: Ana Katresna

Ini adalah salah satu puisi yang terdapat dalam buku antologi puisi kami.

Diperkirakan akan terbit bulan Mei mendatang. Buku ini berisi kumpulan puisi yang bercerita tentang rasa dari sebuah kehidupan. 

Sebuah cinta memiliki arti luas dan sebuah rasa memiliki makna tersendiri. Segala hal yang mungkin tak bisa kita bicarakan melalui lisan bisa kita torehkan melalui tulisan. Semua kisah menyayat hati yang telah kita rasakan baik sendiri maupun orang lain telah terangkai menjadi sebuah buku antologi puisi yang berjudul KuPu-KuPu Perasuk Kalbu.

“Menunggu yang perlu ditunggu”

Waktu, terus berlalu begitu cepat. Ada yang bilang waktu bisa menyembuhkan luka, ya benar. Namun waktu, juga bisa menjadi pembunuh.
Aku mulai jatuh cinta kepada seseorang setelah sekian lama dipenuhi dengan luka. Aku baru menyadarinya, ini cinta. Namun aku bukan tipikal orang yang pandai mengekspresikan perasaan. Sudah lama aku mengenalnya, tidak. Bisa dikatakan aku hanya tahu dia, pasalnya perbincanganku dengannya terpisah jarak dan waktu. Hanya beberapa pertemuan namun sarat akan makna.

Saling bertukar pesan yang membuat hatiku bahagia, walau tanpa bertemu.

Berbunga-bunga rasanya saat dia mengirim pesan sebuah bait-bait indah yang di dalamnya tersamar makna cinta. Namun, semuanya luntur saat dia berkata bahwa ini adalah lirik lagu yang ku kira ungkapan cintanya. 
Aku tertawa membalasnya, yang sebenarnya adalah caraku menyembunyikan rasa kecewaku.

Namun, sebuah nama yang seindah sastra itu, tetap aku menantinya karena aku masih punya harapan walau sejengkal telunjuk jari. Harapanku adalah waktu yang lama saat menunggumu adalah penyebab kebahagianku di masa datang bukan menjadi penyebab kematianku, matinya rasaku akan cinta.
Di sini aku menunggu, menanti kau menggengam tanganku. Karena aku menunggu yang perlu ditunggu yaitu kamu.

#Giveaway_cermin_penantiandalamwaktu

A Peculiar Relationship

Kesendirian tak pernah begitu indah sebelumnya…

Bahkan setelah melalui hari yang sangat sibuk dan melelahkan, segera setelah aku merebahkan diri di kasur dan memutar sebuah lagu, aku pasti langsung merasa diingatkan oleh sebuah kesendirian yang terasa. Tak peduli seberapa kerasnya aku mengalihkan perhatianku, sebagian dari diriku terjebak di sebuah sudut sepi. Sepanjang hari aku akan tertawa dengan yang lain, berjalan-jalan hanya untuk membuat diriku lelah dan melihat banyak orang. End of the day, I see myself and I realize that somewhere, I cannot console that lonely part of me.

Mungkin, itu adalah sisi yang menulis setiap kata penuh kesedihan dan jati diri seorang ‘perempuan-yang-tak-seberapa-bahagia-tapi-tetap-berusaha-untuk-mampu’ datang terbentuk.

This other side of me meets me at the stroke of midnight. There’s a peculiar relationship between the darkness the nights carry and this dark shadow of me. The sun sets, the moon rises and spills its milky pale glow upon this depressed universe.

Aku merasa, bahwa, bulan melanjutkan malam untuk membuat rasa nyeri ini tetap terasa romantis yang tersembunyi di gelapnya lorong; dan aku hanyalah seorang perempuan yang jatuh cinta dengan kesengsaraan, mengais-ais luka hanya untuk ditulis dan diromantisi. Mungkin ada banyak waktu di mana aku terbangun tengah malam, duduk bersila dan melihat ke luar jendela sembari menyeruput secangkir teh panas.
Pasti ada seseorang yang seperti aku di luar sana, yang mabuk akan kata-kata hingga ia terlelap, bersedia menjadi pendosa karena ia tahu tak ada seorang pun yang bisa memanfaatkan sebuah kegelapan. Seseorang, di suatu tempat, pasti sedang berharap untuk mengundang seseorang untuk duduk di sebelahnya dan berbagi keheningan. Kita semua membicarakan banyak hal, namun hanya beberapa orang yang mampu untuk berbagi keheningan. Aku tak tahu kepada siapa aku harus mengulurkan tangan di tengah malam seperti ini untuk diajak berbagi.

Rasanya tak ada yang mengenalku sebaik itu, sehingga aku percaya bahwa hanya pada layar dan lembaran kertas teriakanku harus tertuju. Aku berteriak karena tak banyak orang yang terang-terangan menyatakan bahwa mereka mencintai seseorang dan benar-benar serius padanya. The ones who love honestly don’t say it. The ones who do aren’t loved back

Kita tak diizinkan untuk mengekspresikan kebahagiaan, kesengsaraan, kemarahan, dan bahkan rasa cinta. “Tenang dulu dong, jangan buru-buru seneng!”, ini adalah hal yang selalu kudengar sepanjang waktu.
Tapi apa kamu tahu? Aku tak mendengarkan mereka lagi dan aku akan tertawa keras hingga perutku sakit. Aku bertepuk tangan dan tersenyum tanpa batas ketika sesuatu yang membahagiakan terjadi.

I cry in movies, and when I watch a bad news over televisions; I act protective and responsible and I express it all. When I read a novel, I smile and sometimes my eyes well up with tears of joy too. Why shouldn’t I let myself feel? Why shouldn’t I express what I feel? I’m a human and I’m ought to feel.
Tapi sedihnya, tak banyak dari kita yang merasakan hal yang sama dan mungkin itulah kenapa aku duduk di sini sendiri, menulis pada diri sendiri soal realita yang hampir mendekati sebuah keputus asaan, sharing the intensity of the fierce fires under the prolonged silence upon the surface of this midnight struck the hour.




( Ini adalah ungkapan kesendirian yang ternaung indah lewat rangkaian kata. Coretan yang dituliskan oleh penulis sangatlah indah dan mewakili perasaan seseorang dalam kesunyian mungkin mereka, kalian, kamu dan aku )

#Copas dari : Siantita Novaya

Community Writer https://fiction.idntimes.com/story/siantita-novaya/a-peculiar-relationship-c1c2

Nada dalam hujan

Dengarkanlah rintikan – rintikan hujan

Di setiap tetes air yang jatuh ke jalanan

Terselip sebuah ungkapan

Yang tak mampu keluar dari lisan

Dengarkan dengan seksama

Dan rasakan dari dalam jiwa

Bahwa setiap hujan yang jatuh

Terselip sebuah nada nyanyian keluh

Keluh aku yang sedang mencita

Namun tak mampu berkata

Bahwa sungguh aku di sini

Mencintaimu sepenuh hati